
Setelah harus kalah 0-1 dari Singapura kini hanya dapat gigi jari pada laga kedua melawan Jepang 0-7 tanpa balas. Permainan yang tidak terkordinir, individualis, dan juga tidak paham apa yang dikatakan oleh pelatih mungkin salah satunya. Apa yang dipelajari di Uruguay ternyata hanya jalan-jalan dan juga traveling backpaker mungkin, dan status tidak sekolah. Untuk apa dipertahankan lagi team yang jadi seperti ini hasilnya, hanya menghabiskan uang saja. Begitulah kata kasarnya yang harus dikatakan untuk menyadarkan seluruh pengurus PSSI juga para pemain U-19 Indonesia.
Jadi malu terkadang melihat laga Indonesia tadi melawan Jepang. Indonesia jadi bulan-bulanan permainan Jepang yang terus menerus menyerang dan melakukan positive football. Baik team keseblasan Jepang telah mengajarkan Indonesia bermain bola. Sampai-sampai terkadang menyalahkan pelatih dalam mengatur strategi. Harusnya pelatih memasukan penyerangan nya dengan nama-nama pemain terbaik. Bukan untuk disimpan. Dilihat dari permainan tadi pemain yang layak dimasukan untuk sistem penyerangan yaitu Syamsir Alam, Alan Martha, Sahlan Sodiq, dan juga Lestaluhu. Harusnya keempat pemain itu bisa menjadi pemain yang mampu menjetak goal untuk Indonesia. Tadi bagaimana, busuk semua sistem penyerangan Indonesia hanya dapat gigit jari.
Harusnya pelatih lebih mampu membaca situasi lawan. Seorang Cristiantoko bek sayap no.2 tidak bermain layaknya seperti kemarin. Hanya dapat diam dan menunggu goal lawan. Baik sekali cara penjagaannya, sampai-sampai bisa kebobolan 7 goal sekaligus, mau bunuh kiper ya.
Kiper nya sudah baiik kok malah dimain-mainin gitu. Kasihan tuh kiper, besok pada pulang aja lagi, sekolah lanjutin nyari deh gelar S1 terus test CPNS. Hehehe.., habisnya mental pemain bolanya tidak ada. Hanya ngabisin uang dan bikin malu. Ayo terus maju team nasional Indonesia. PSSI seleksi pemain timnas itu jangan pake kolusi atau nepotisme dunk, yang wajar. Kalau yang bagus ya bagus. Jangan seluruh pemain nya hanya sekitar pulau jawa. Regrads!!!
Jadi malu terkadang melihat laga Indonesia tadi melawan Jepang. Indonesia jadi bulan-bulanan permainan Jepang yang terus menerus menyerang dan melakukan positive football. Baik team keseblasan Jepang telah mengajarkan Indonesia bermain bola. Sampai-sampai terkadang menyalahkan pelatih dalam mengatur strategi. Harusnya pelatih memasukan penyerangan nya dengan nama-nama pemain terbaik. Bukan untuk disimpan. Dilihat dari permainan tadi pemain yang layak dimasukan untuk sistem penyerangan yaitu Syamsir Alam, Alan Martha, Sahlan Sodiq, dan juga Lestaluhu. Harusnya keempat pemain itu bisa menjadi pemain yang mampu menjetak goal untuk Indonesia. Tadi bagaimana, busuk semua sistem penyerangan Indonesia hanya dapat gigit jari.
Harusnya pelatih lebih mampu membaca situasi lawan. Seorang Cristiantoko bek sayap no.2 tidak bermain layaknya seperti kemarin. Hanya dapat diam dan menunggu goal lawan. Baik sekali cara penjagaannya, sampai-sampai bisa kebobolan 7 goal sekaligus, mau bunuh kiper ya.
Kiper nya sudah baiik kok malah dimain-mainin gitu. Kasihan tuh kiper, besok pada pulang aja lagi, sekolah lanjutin nyari deh gelar S1 terus test CPNS. Hehehe.., habisnya mental pemain bolanya tidak ada. Hanya ngabisin uang dan bikin malu. Ayo terus maju team nasional Indonesia. PSSI seleksi pemain timnas itu jangan pake kolusi atau nepotisme dunk, yang wajar. Kalau yang bagus ya bagus. Jangan seluruh pemain nya hanya sekitar pulau jawa. Regrads!!!










